Cari Blog Ini

Memuat...

Pendidikan Karakter

Saling memberi, berbagi itulah budaya kita
Loading...

Rabu, 10 Februari 2010

metode pembelajaran dalam islam dan pengembangannya

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kajian tentang transmisi ilmu pengetahuan pada masa Nabi/Islam niscaya membahas tentang masalah metode(manhaj) sebagai salah satu komponen penting dalam proses transmisi itu sendiri. Dalam proses pendidikan, metode mempunyai kedudukan penting untuk mencapai tujuan, karena ia menjadi sarana yang memberi makna kepada materi pendidikan. Pemiliha metode yang tepat guna akan memperlancar jalannya proses pendidikan dan pengajaran. Sebelum mendidik seorang instruktur dituntut untuk dapat memilih metode yang kan digunakan dalam aktivitas pendidikannya. Menurut konsep didaktik metodik, memilih metode mengajar didasarkan pada pertimbangan beberapa faktor, antara lain tujuan mengajar dan materi yang akan diajarkan.
Namun pada prinsipnya beberapa metode mengajar dapat digunakan secara bervariasi untuk satu materi pengajaran. Dalam menjalankan proses pengajaran sangat diperlukan guru yang profesional, karna semakin profesionalnya seorang guru dapat memberikan kontribusi yang berarti pada anak didik. Dalam hal ini Islam sangat memberikan perhatian kepada para guru, sebab keberadaan mareka bagaikan batu pertama dalam strukktur perkembangan dan kesempurnaan sosial serta jalan bimbingan dan pembangunan tingkah laku dan mentalitas individu dan masyarakat. Guru dalam proses pembelajaran di samping sebagai orang yang usaha menyempurnakan sosial dan jalan bimbingan para peserta didik, mareka juga harus menjadi panutan atau teladan bagi para murid. Murid memperoleh sifat yang baik serta kecendrungan yang benar, jiga perilaku yang utama dan kealiman, dari guru-guru mareka yang mana bimbingan dan tindak tanduknya merasuk kedalam sanubari mareka.
Disamping peran guru, dalam proses pembelajaran Islam, para murid diwajibkan menunjukkan penghormatan dan pemulian tertinggi pada guru-guru mareka. Sebagaimana Imam Ali Zainal Abidin berkata; “hak gurumu atas dirimu adalah engkau harus memuliakan dirinya, menghormati kesediaannya untuk mengajarmu, menyimakk dengan baik kata-katanya, memperhatikan ajaran-ajaran yang diberikannya, menunjukkan kesungguhanmu dengan memusatkan pikiranmu hanya dirinya, menunjukkan kepada dirinya kepahamanmu atas ajaran-ajarannya, memurnikan hatimu dan mengosongkan pikiranmu ari keinginan-keinginanmu yang tidak ada hubungannya dengan pelajarannya, serta menetapkan dengan penuh perhatian” . Dalam pembelajaran guru memiliki hak-hak tidak hanya atas para murid, tetapi juga atas bangsa. Ini karena guru adalah sumber pencerahan serta kesadaran, yang karena mareka kita apat memulihkan elemen-elemen kebangkitan dan pembangunan.
Pembelajaran dalam Islam sangatlah menjunjung tinggi pada para pendidik, karena mareka adalah faktor utama dalam menentukan keberhasilah pembelajaran. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki metodelogi dalam penyampaian pembelajaran.


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Pembelajaran
Pembelajaran dan pengajaran menurut Degeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Dalam pengertian ini secara implisit dalam pengajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pengajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan dan pengembangan metode ini didasarkan pada kondisi pengajaran yang ada. Kagiatan ini pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran.
Dalam hal ini, istilah pembelajaran memiliki hakikat perencana atau perencanaan(desain) sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itulah sebabnya dalam belajar, siswa tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Oleh karena itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada “bagaimana membelajarkan siswa”, dan bukan pada “ apa yang dipelajari siswa”. Adapun perhatian terhadap apa yang dipelajari siswa merupakan bidang kajian dari kurikulum, yakni mengenai apa isi pembelajaran yang harus dipelajari siswa agar dapat tercapainya tujuan. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara agar tercapai tujuanb tersebut. Dalam kaitan ini hal-hal yang tidak bisa dilupakan untuk mencapai tujuan adalah bagaimana car mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.
B. Faktor-faktor yang menyababkan timbulnya berbagai macam metode mengajar
Dalam dunia pendidikan, kita banyak mengenal berbagai macam ragam metode pengajaran, mulai dari metode ceramah, metode diskusi/musyawarah, metode kerja kelompok, metode sosiodrama/bermain peranan (role playing), metode latihan, metode resitasi(pemberian tugas), metode sistem regu, dan lain sebagainya. Dari sekian metode yang telah kita sebutkan tadi, dapat dipakai dan diterapkan dalam pengajaran. Mungkin sekali seorang pengajar/guru dalam mengajar memerlukan: 2, 3 atau bahkan 4 metdode dalam satu proses pembelajaran di kelas. Hal ini dapat saja dilakukan dan memang seyogyabya demikian, agar perhatian dan minat siswa dapat tercurah pada pembelajaran.
Banyaknya macam jenis metode disebabkan oleh karena metode tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor berikut:
1. Tujuan yang berbeda-beda dari masing-masing bidang study.
2. Perbedaan latar belakang dan kemampuan masing-masing peserta didik/murid.
3. Perbedaan orientasi, sifat dan kepribadian serta kemampuan masingg-masing guru.
4. Faktor situasi dan kondisi, dimana proses pendidikan dan pengajaran berlangsung. Termasuk dalam hal ini jenis lembaga pendidikan dan faktor giografis yangb berbeda-beda.
5. Tersedianya fasilitas yang berbeda-beda, baik secara kuantitas maupun secara kualitas.
Dari ini pula, untuk menggolong-golongkan apakah suatu metode tertentu efektif atau tidak, memang agak sulit dilakukan. Sebab masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangannya. Lagi pula metode yang kurang baik di tangan guru yang seorang dapat menjadi metode yang baik “baik sekali” ditangan guru yang lain. Sebaliknya metode yang baik tersebut dapat gagal ditangan guru yang tidak menguasai teknik pelaksanaannya.
Namun yang penting diperhatikan oleh seorang guru, adalah ketepatan dalam memilih, menentukan dimana diantara sekian metode ini dapat tepat dan cocok diterapkan dalam suatu situasi dalam pengangajaran; serta kemampuan dalam mengkombinasikan metode-metode yang telah ditetapkan itu secara harmonis dan serasi. Dengan kata lain, untuk menyajikan pengajaran yang lebih menarik perhatian/minat bagi anak didik, diantara satu mata pelajaran dengan lainnya amatlah diperlukan dengan metoe yang berbeda, bahkan diantara bahan-bahan materi tertentupun memerlukan metode-metode yang berlainan, meskipun masih didalam satu bidang tertentu. Misalnya mengajarkan bahan pelajaran tentang puasa, metodenya berbeda dengan metode mengajarkan shalat, (puasa dan shalat adalah bidang fiqih, demikian seterusnya.
Hubungan Metodologi Pembelajaran Dengan Didaktik
Secara garis besar dapat dikatakan bahwa didaktik membicarakan prinsip-prinsip umum yang berhubungan dengan penyajian bahan pelajaran, sedangkan metodologi pengajaran (metodik) membicarakan tentang cara-cara mengajarkan bidang studi tertentu dimana prinsip-prinsip umum tersebut berlaku di dalamnya. Jadi didaktik bergerak dan teknik yang akan ditempuh dalam kegiatan belajar mengajart tersebut. Sehingga dikatakan antara didaktik dan metodologi pengajaran terdapat hubungan yang erat, terutama dalam kesiapan guru pada saat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.
C. Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Berkaitan dengan metode pembelajaran ini, diskusi mengenai metodelogi pembelajaran Islam akan difokuskan pada mesalah relevansi metodelogis antara materi dengan metode pendidikan Nabi, yang kemudian dilanjutkan dengan masalah modeling(keteladanan) sebagai inti metode pendidikan Nabi. Untuk membahas masalah relevansi metodelogis antara materi dan metode pendidikan Nabi akan disajikan menurut tema-tema pokok kandungan al-Qur’an yang menjadi “kurikulum” pendidikan Nabi, yang meliputi bidang akidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalah.
Akidah Islamiyah selalu berhubungan dengan persoalan utama tentang keimanan sebagaimana tercantum dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya hari akhirat, dan takdir baik dan takdir buruk. Dalam mengajar keimanan Nabi menggunakan beberapa metode sebagaimana akan terlihat dalam hadits-hadits berikut ini.
Abdurrahman ibn Abi Bakrah meriwayatkan dari ayahnya, Rasul SAW bertanya: “belumkah aku kabarkan kepadamu tentang dosa yang paling besar? Kami para sahabat menjawab: ya, belum wahai Rasulullah SAW.” Rasul bersabda: “menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Pada saat itu beliau bersandar kemudian duduk. Selanjutnya beliau berkata:”ingatlah ucapan palsu dan kesaksian dusta, ingatlah ucapanpalsu dan kesaksian dusta.” Beliau mengucapkan dengan tidak ada henti-hentinya, nyaris saya katakana beliau tidak diam.
Metode pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi: (1) strategi pengorganisasian, (2) strategi penyampaian, (3) strategi pengelolaan pembelajaran. Dalam kaitannya dengan pembelajaran pendidikan agama, strategi pengorganisasian adalah suatu metode untuk mengorganisasi isi bidang study PAI yang dipilih untuk pembelajaran. Pengorganisasian isi bidang studi mengacu pada kegiatan pemilihannya isi, penataan isi, pembuatan diagram, skema, format, dan sebagainya. Strategi pengorganisasian dapat dibedakan menjadi strategi mikro dan strategi makro. Strategi mikro mengacu pada metode satu konsep. Prosedur dan prinsip, dalil hukum. Strategi makro mengacu pada metode untuk mengorganisasikan isi pembelajaran PAI yang melibatkan lebih dari satu konsep, prosedur, prinsip, dalil atau hukum.
Strategi makro berkaitan dengan bagaimana memilih isi pembelajaran PAI yang sesuai dengan tujuan, menata urutan isi pembelajaran PAI yang sesuai dengan tujuan, menata urutan isi pembelajaran berdasarkan urutan konsep secara prosedural, membuat sintesis dengan menunjukkan keterkaitan antar konsep, dan rangkuman isi berdasarkan tujuan pembelajaran, serta keterkaitan antar konsep dan prosedur. Misalnya konsep lingkungan, konsep bersih, konsep indah, konsep sehat, dan konsep keimanan bisa ditarik satu sintesis dengan meninjukkan keterkaitan antar konsep, sehingga dapat melahirkan prinsip-prinsip Islam dalam menjaga dan memeliharra lingkungan yang bersih, sehat, indah dan agamis.
1. Strategi Penyampaian Pembelajaran
Strategi penyampaian pembelajaran adalah metode-metode penyampaian pembelajaran yang dikembangkan untuk membuat siswa dapat merespon dan menerima pembelajaran dengan mudah, cepat, dan menyenangkan. Karena itu, penetapan strategi penyampaian perlu menerima serta merespon masukan dari peserta didik. Gagne dan Brriggs (1978) menyebut strategi ini dengan dilevery sistem, yang didefinisikan sebagai “the total of all components necessary to make an intruktional system operate as intended”. Dengan demikian metode penyampaian mencakup lingkungan fisik, guru atau orang, bahan-bahan pembelajaran dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran yang lain. Dengan perkataan lain media pembelajaran merupakan satu komponen penting dan menjadi kajian utama dalam strategi ini. Strategi penyampaian ini berfungsi sebagai penyampaian isi pembelajaran kepada peserta didik dan menyediakan informasi yang diperlukan peserta didik untuk menampilkan unjuk kerja.
Ada tiga komponen dalam strategi penyampaian ini, yaitu (1) media pembelajaran, (2) interaksi media pembelajaran dengan peserta didik, dan (3) pola atau bentuk belajar mengajar. Media pembelajaran pada ssebuah mata pelajaran, mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan peserta didik (Martin dan Brigg, 1986). Media pembelajaran dapat berupa apa saja yang dapat dijadiakan perantaraan (medium) ubtuk dimuati pesan nilai-nilai pendidikan agama yang akan disampaikan kepada pepserta didik. Media bisa berupa perangkat keras, seperti komputer, televisi, projektor, orang atau alat dan bahan-bahan cetak lainnya.
2. Strategi Kegiatan Pembelajaran
Strategi pelaksanaan pembelajaran dapat ditinjau berdasarkan pengertian secara sempit dan pengertian secara luas. Secara sempit, strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan secara luas, strategi pembelajaran dapat diberi arti penatapan semua aspek yang berkaitan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, termasuk didalamnya adalah perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap proses, hasil dan pengaruh kegiatan pembelajaran. Berdasarkan kegiatan yang ditimbulkan, strategi pembelajaran dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu strategi pembelajaran yang terpusat pada peserta didik, dan strategi pembelajaran yang terpusat pada pendidik. Kedua bagian tersebut diuraikan dibawah ini.
a. Strategi pembelajaran yang terpusat pada peserta didik
Strategi pembelajaran yang terpusat pada peserta didik adalah kegiatan pebelajaran yang memberikan kesepatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Strategi ini menekankan bahwa peserta didik adalah pemegang peran dalam proses keseluruhan kegiatan pembelajaran, sedangkan pendidik berfungsi untuk menfasilitasi peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik memiliki beberapa cirri. Cirri-ciri tersebut adalah bahwa pembelajaran menitikberatkan pada keaktifan peserta didik, kegiatan pembelajaran dilakukan secara kritis dan analitik, motivasi belajar relative tinggi, pendidik hanya berperan sebagai pembantu (fasilitator) peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar, memerlukan waktu yang memadai (relative lama), dan memerlukan dukungan sarana belajar yang lengkap. Cirri lainnya adalah bahwa strategi pembelajaran ini akan cocok untuk pembelajaran lanjutan tentang konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya, belajar dari pengalaman peserta didik dalam kehidupannya, dan untuk pemecahan masalah yang dihadapi bersama dalam kehidupan.
b. Strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik
Strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik adalah kegiatan pembelajaran yang menekankan terhadap pentingnya aktivitas pendidik dalam mengajar atau membelajarkan peserta didik. Perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses serta hasil pembelajaran dilakukan dan dikendalikan oleh pendidik. Sedangkan peserta didik berperan sebagai pengikut kegiatan yang ditampilkan oleh pendidik.
Cirri-ciri strategi pembelajaran yang berpusat pada pendidik adalah pertama, adanya dominasi pendidik dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan peserta didik relative pasif dan hanya melakukan kegiatan melalui perbuatan pendidik. Kedua, bahan pelajaran terdiri atas konsep-konsep dasar atau materi belajar yang baru dan peserta didik membutuhkan informasi yang tuntas dan gambling dari pendidik. Ketiga, jumlah peserta didik cukup banyak sehingga pelaksanaan pembelajaran memungkinkan dilakukan oleh perorangan atau kelompok kecil. Keempat, terbatasnya sarana pembelajaran sehingga peserta didik tidak dapat melakukan kegiatan belajar yang dialami secara langsung melalui penerapan atau kegiatan percobaan dilapangan.
3. Pemilihan Media Pembelajaran
Dalam pemilihan media pembelajaran PAI sekurang-kurangnya dapat mempertimbangkan lima hal, yaitu (1) Tingkat kecermatan representasi, (2) Tingkat interaktif yang mampu menimbulkannya, (3) Tingkat kemampuan khusus yang dimilikinya, (4) Tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya, dan (5) Tingkat biaya yang diperlukannya.
Brunner (1966) dalam pengembangan teory pembelajarannya mengemukakan bahwa suatu pembelajaran harus bergerak dari pengalaman langsung ke representasi ikon (seperti dalam gambar dan dalam film) dan selanjutnya ke representasi simbolik (seperti dalam kata atau simbol-simbol). Tingkat kemampuan khusus yang dimiliki suatu media jiga dapat dipakai untuk menetapkan pemilihan media pembelajaran PAI yang paling cocok. Setiap media pembelajaran dapat diidentifikasi karakteristik khusus yang dimilikinya. Karakteristik khusus yang dimaksud adalah kemampauannya dalam menyajikan suatu yang tidak dapat di sajikan oleh madia lain. Misalanya menyajikan hakikat keimanan dalam Islam, berbeda halnya dengan penyajian tentang perilaku seorang beriman, atau tata cara beribadah dalam Islam, bahkan perilaku akhlak yang menunjukkan tingkat kesalahan sosial.
Dewasa ini dapat kita saksikan penggunaan media informasi yang beragam model dan gaya untuk pembelajaran PAI. Baik melalui media cetak maupun elektronik cukup tersedia. Dari media elektronik dapat disaksikan model rekaman yang berisi penyajian lewat radio dan layar kaca (TV) yang berupa pembelajaran agama (kuliah subuh, diambang fajar, hikmah fajar dan pengajian pagi. Sedangkan dari media cetak dapat kita jumpa berbagai bentuk dan model penerbitan dan pembukuan pembelajaran agama, mulai yang bersifat ilmiah, bacaan pupuler, cerita, komik sampai dengan yang bersifat brosur, mulai dari yang bernilai jurnal ilmiah sampai dengan majalah anak-anak, seperti aku anak saleh.
Strategi pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara peserta didik dengan komponen-komponen metode pembelajaran lain, seperti pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Strategi pengelolaan pembelajaran PAI berupaya untuk menata interaksi peserta didik dengan memperhatikan empat hal, yaitu; (1) penjadwalan kegiatan pembelajaran yang menunjukkan tahap-tahap kegiatan yang harus ditempuh peserta didik dalam pembelajaran, (2) pembuatan kegiatan kemajuan belajar peserta didik melalui penilaian yang komprehensif dan berkala selama proses pembelajaran berlangsung maupun sesudahnya, (3) pengelolaan motivasi peserta didik dengan menciptakan cara-cara yang mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik, dan (4) kontrol mengajar yang mengacu kepada pemberian kebebasan untuk memilih tindakan untuk memilih tindakan belajar sesuai dengan karakteristik peserta didik.
4. Kegiatan pembelajaran
Bagne dalam bukunya Margaret E. Bell Bliedier tentang belajar membelajarkan pada halaman 205 mengungkapkan bahwa: “Pembelajaran diartikan sebagai acara dari peristiwa eksternal yang dirancang oleh guru guna mendukung terjadinya kegiatan belajar yang dilakukan siswa.” Dengan demikian kegiatan pembelajaran dilukiskan sebagai upaya guru yang tujuannya membantu siswa untuk belajar. Kegiatan pembelajaran menekankan kepada semua peristiwa yang dapat berpengaruh secara langsung kepada aktivitas belajar siswa, dengan kata lain pembelajaran adalah upaya guru agar terjadi peristiwa belajar yang dilakukan siswa.
Peristiwa guru mengajar dan siswa belajar sebagai peristiwa proses pembelajaran senantiasa dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain:
1. Kompetensi dasar, meliputi bukan hanya domain kognitif saja melainkan juga domain afektif dan psiokomotorik, yang ingin dicapai adalah hasil belajar, yaitu perubahan pada diri anak, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bersikap menjadi dapat menilai dan membedakan, dari tidak dapat melakukan menjadi dapat mempraktekkan dan dapat mengajarkan.
2. Materi atau bahan ajar, yaitu terstruktur dalam kegiatan rumpun pelajaran, baik meliputi ruang lingkupsekuensial maupun tingkat kesulitannya.
3. Sumber belajar, untuk mengadakan peristiwa pembelajaran yang konstektual artinya yang relevan, terpilih dan tepat guna sesuai dengan pencapaian kompetensi dasar yang ditetapkan.
4. Media dan fasilitas belajar, termasuk ruang kelas dan penciptaan lingkungan yang kondusif yang menjadikan peristiwa belajar menjadi dinamis dan menyenangkan. Disini perlunya dipertimbangkan jumlah siswa, alokasi waktu dan terjadinya alat peraga dan pemilihan metode yang akan dipergunakan.
5. Siswa yang belajar, perlu diperhatikan kemampuan usia perkembangan, latar belakang, motivasi dan kebutuhan siswa.
6. Guru yang mengelola pembelajaran, yaitu dilihat dari kopetensinya, dalam teknik mengajar kebiasaannya, pandangan hidup, latar belakang pendidikan, dan kerjasama dengan teman sejawat sesame guru.
5. Peranan dan Fungsi metode Pembelajaran Agama
Sebagai salah satu bidang studi, metode pembelajaran agama Islam merupakan suatu mata kuliah yang harus di pelajari oleh para mahasiswa jurusan kependidikan Islam, dengan maksud mahasiswa bisa membekali diri dengan penguasaan ilmu tersebut agar dapat menjadi guru/pendidik agama yang menguasai tentang teknik-teknik penyampaian pengajaran agama secara baik dan benar.
Metodelogi pengajaran agama sangat bermanfaat bagi calon guru/pendidik agama, karena:
1. Membahas tetang berbagai prinsip, teknik-teknik dan pendekatan pengajaran yang digunakan. Dengan mempelajarinya seorang guru dapat memilih metode manakah yang layak dipakai, mempertimbangkan keunggulan dan kelemahannya, serta kesesuaian metode tersebut dengan karakteristik siswa dan cirri-ciri khas materi yang akan di sajikan sehingga kegiatan belajar dapat berlangsung secara optimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
2. Terlalu luasnya materi agama dan sedikitnya waktu yang tersedia untuk menyampaikan bahan, sudah barang tentu memerlukan pemikiran yang mendalam bagaimana usaha guru agama, agar tujuan pengajaran dan pendidikan agama dapat tercapai dengan sebaik-baiknya. Disinilah fungsi metodlogi pengajaran agama dapat member makna yang basar sekali terhadap guru yang telah mempelajarinya secara baik, terutama yang berkenaan dengan desain dan rancangan pengajaran.
3. Sifat pengajaran agama lebih banyak menekankan pada segi tujuan afektif (sikap) dibanding tujuan kognitif, menjadikan peranan guru agama lebih bersifat mendidik daripada mengajar. Metodelogi pengajaran agama turut memberikan distribusi pengetahuan terhadap mahasiswa sebagai calon guru / pendidik yang diharapkan.
Pembelajaran mengandung berbagai fungsi seperti membantu, membimbing, melatih, memelihara, merawat, menumbuhkan, mendorong, membentuk, meluruskan, menilang dan mengembangkan. Fungsi-fungsi pembelajaran itu dilakukan oleh dan menjadi tanggung jawab pendidik yaitu guru, pemong belajar, pembimbing, pelatih dan sebagainya. Sehingga peserta didik dapat melakukan perubahan dalam dirinya sesuai dengan tujuan pebelajaran yang merupakan bagian dari tujuan pendidikan.
Terdapat banyak teori tentang fungsi pendidik dalam pembelajaran. Fenstermacher dan Soltis (1986) menjelaskan bahwa fungsi pendidik dianalogikan dengan fungsi pemeliharaan taman(gendener), perajin keramik (potter) juru rawat (midwife), dan penyaji (provisioner).
6. Azas-Azas Pembelajaran
Pada dasarnya, azas-azas pengajaran menrupakan prinsip umum-prinsip umum yang harus dikuasai oleh guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian diharapkan pengajaran yang diberikan dapat membawa hasil yang memuaskan dan dapat dipertanggungjawabkan secara didaktik-peadagogis. Azas-azas pengajaran tersebut akan dibahas berikut ini:
1. Peragaan
Peragaan ialah cara yang dilakukan oleh guru dengan maksud memberikan kejelasan secara realita terhadap pesan yang disampaikan sehingga dapat dimengerti dan dipahami oleh para siswa. Dengan peragaan diharapkan proses pembelajaran terhindar dari verbalisme, yaitu siswa hanya tahu kata-kata yang diucapkan oleh guru tetapi tidak mengerti maksudnya. Untuk itu sangat diperlukan peragaan dalam pengajarana terutama terhadap siswa ditingkat dasar.
Peragaan meliputi semua pekerjaan indra yang bertujuan untuk mencapai pengertian tentang suatu hal secara tepat. Agar peragaan berkesan secara nyata, anak tidak hanya mengamati benda atau model yang diperagakan terbatas pada luarnya saja, akan tetapi harus mencapai berbagai segi, dianalisis, disusun dan dibanding-bandingkan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap.
2. Minat dan perhatian
Minat dan perhatian merupakan suatu gejala jiwa yang selalu bertalian. Seorang siswa yang memiliki minat dalam belajar, akan timbul perhatiannya terhadap pelajaran yang diminati tersebut. Akan tetapi perhatian seseorang kadang kalanya timbul dan ada kalanya hilang samasekali. Suatu saat anak kurang perhatiannya terhadap penjelasan yang diberikan gurunya di muka kelas bukan disebabkan dia tidak memiliki minat dalam belajar, boleh jadi ada gangguan dalam dirinya atau perhatian lain yang mengusik ketenagangannya diruang kelas atau guru kurang memberikan teknik pelajaran yang bervariasi sehingga anak menjadi tidak tertarik terhadap apa yang dijelaskan oleh guru tersebut.
Sebaliknya tidak semua siswa mempunyai perhatian yang sama terhadap pelajaran yang disajikan oleh guru. Oleh karena itu diperlukan kecakapan guru untuk dapat membangkitkan perhatian anak didik. Perhatian yang dibangkitkan oleh guru tersebut perhatian yang disengaja, sedangkan perhatian yang timbul dengan sendirinya dalam diri anak disebut dengan perhatian spontan.
3. Motivasi
Dorongan yang timbul dalam diri seseorang disebut motivasi, dimana seseorang memperoleh daya jiwa yang mendorongnya untuk melakukan suatu yang timbul dalam dirinya sendiri dinamakan motivasi instrinksik. Sedangkan dorongan yang timbul yang disebabkan oleh adanya pengaruh luar disebuk motivasi ekstrinksik.
Seorang anak yang didorong oleh motivasi instrinksik biasanya ia ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam perbuatan belajarnya, sebagaimana dikatakan oleh para ahli psikologi,”Tnstrinsic motivation are inherence in the learning situations and meeting pupil needs and purposes”. Sebaliknya apabila seorang belajar untuk mencari perhargaan berupa angka, hadiah. Diploma, dan sebagainya berarti didorong oleh motivasi ekstrinksik, oleh karena tujuan yang ingin dicapainya tersebut terletak diluar perbuatan atau disebut dengan “the goal is artificially introduced” (S. Nasution, 1982 :80).
Seorang guru dapat memberikan berbagai macam motivasi ekstrinsik kepada anak-anak namun tidak semua motivasi ini baik bagi perkembangan jiwa mareka. Oleh karena itu seorang guru harus mengetahui dan memahami secara pasti kapan dan bilakah sebaiknya motivasi tersebut tepat diberikan, dengan kata lain motivasi yang bagaimanakan yang cocok diterapkan kepada diri anak.

4. Apersepsi
Ahli psikologi mendefinisikan apersepsi yaitu bersatunya memory yang lama dengan yang baru pada satu saat tertentu. Seorang guru yang akan memberikan pelajaran kepada muridnya terlebih dahulu mengetahui pelajaran yang telah mareka pelajari sebelumnya, sehingga setiap pengajaran dimulai akan terjadi keterkaitan antara bahan pelajaran yang lama dengan yang baru. Bahan yang lama dapat diingat kembali sehingga dapat menimbulkan rangsangan dan perhatian siswa dalam belajar.
Guru dapat mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai bahan yang akan disajikan atau belum, sehingga hal tersebut dapat disajikan sebagai titik tolak dalam memulai pelajaran yang baru. Oleh karena itu pengajaran harus maju secara bertahap agar penguasaan bahan yang lewat dapat dijadikan sebagai persiapan siswa dalam menghadapi pelajaran yang baru.
5. Korelasi dan Konsentrasi
Yang dimaksud denga korelasi disini adalah hubungan anatara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain yang berfungsi dapat menambah kematangan pengetahuan yang dimiliki siswa. Dengan azas korelasi maka pelajaran yang satu dengan yang lain diharapkan dapat menimbulkan konsentrasi siswa sehingga dapat membangkitkan minat dan perhatian mareka dalam belajar. Seorang guru hendaknya juga dapat menghubungkan pelajaran yang diberikan dengan realita sehari-hari atau dapat menggunakan metode unik agar anak betul-betul megikuti dengan seksama terhadap pelajaran yang diberikan.
Adanya pemusatan tertentu dalam keseluruhan materi pelajaran dianggap penting agar perhatian dan kegiatan siswa dalam mencari jawaban tentang masalah yang mareka hadapi. Untuk itu guru hendaknya dapat mengatur kondisi pengajaran sesuai perencanaan sehingga ada pemusatan atau konsentrasi tertentu dan dapat mendorong perhatian siswa untuk menyelidiki dan menemukan suatu yang kelak digunakan dalam masyarakat.

6. Kooperasi
Yang dimaksud dengan kooperasi disini adalah belajar atau bekerja bersama (kelompok). Azas kooperasi ini sangat diutamakan dalam proses belajar-mengajar, seperti: belajar bersama/kelompok, membuat alat secara berkelompok, karyawisata dan sebagainya. Hal ini dianggap penting untuk menjalin hubungan social antara siswa yang satu dengan lainnya, juga hubungan guru dengan siswa.
Belajar kelompok (kooperatif) dapat memberikan keuntungan-keuntungan terhadap siswa antara lain;
a. Hasil belajar lebih sempurna apabila dibandingkan, dengan belajar secara individu.
b. Pendapat yang dituangkan secara bersama lebih meyakinkan dan lebih kuat apabila dibandingkan pendapat perorangan.
c. Dengan kerjasama yang dilakukan oleh siswa dapat mengikat tali persatuan, tanggung jawab bersama, rasa memiliki (sence of belonging), dan menghilangkan egoism.
7. Individualisasi
Azas individualisasi pada dasarkan bukan merupakan lawan dari azas kooperasi. Azas ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan siswa baik dalam menerima, memahami, menghayati menganalisis, dan kecepatan mareka dalam mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Disamping itu para siswa juga berbeda dalam bentuk fisik dan mental sekalipun terdapat banyak persamaan dalam beberapa hal. Oleh karena itu setiap proses belajar mengajar hendaknya guru berusaha menyesuaikan materi yang disajikan dengan kondisi siswanya. Sebaiknya diadakan pengelompokan siswa agar bahan yang disajikan dapat disesuaikan dengan kondisi mareka masing-masing. Mungkin dapat dikelompokkan menjadi tiga misalnya: kelompok A, kelompok B, kelompok C, sesuai dengan tinggi rendahnya kemampuan dan tingkat inteligensi mareka, dengan maksud akan dapat terjadinya kombinasi pengajaran klasikal dan pengajaran individual.

8. Evaluasi
Yang dimaksud dengan evaluasi disini yaitu penilaian seorang guru terhadap proses atau kegiatan belajar mengajar. Penilaian tersebut bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pengajaran yang diterapkan dapat tercapai, disamping itu juga hambatan-hambatan yang terjadi dalam proses belajar mengajar tersebut. Penilaian ini tidak hanya dilakukan terbatas pada akhir catur wulan, semester, atau akhir tahun, tetapi juga dilakukan juga pada setiap akhir jam pelajaran. Hal ini sangat berguna bagi guru maupun siswa untuk mengetahui kemajuan hasil belajar mengajar yang dilakukan.
7. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap metode pembelajaran
Terdapat beberapa factor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses system pembelajaran, diantaranya factor guru, factor siswa, sarana, alat dan media yang tersedia, serta factor lingkungan.
1. Faktor guru
Guru merupakan komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu metode pembelajaran. Tanpa guru bagaimanapun bagus dan idealnya suatu strategi pembelajaran, maka strategi itu tidak mungkin bisa diaplikasikan. Keberhasilan implementasi suatu strategi pembelajaran terhantung pada kepiawaian guru dalam menggunakan metode, teknik dan taktik pembelajaran. Diyakini setiap guru akan memiliki pengalaman, pengetahuan, kemampuan, gaya, dan bahkan pandangan yang berbeda dalam mengajar. Guru yang mengganggap belajar hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran akan berbeda dengan guru yang menggangap mengajar adalah suatu proses pemberian pengetahuan kepada peserta didik. Masing-masing perbedaan tersebut dapat mempengaruhi baik dalam penyusunan strategi atau implementasi pembelajaran.
Guru dalam, pembelajaran memegang peran yang sangat penting. Peran guru apalagi untuk siswa pada usia pendidikan dasar, tak mungkin dapat di gantikan oleh perangkat lain, seperti televise, radio, computer dan lain sebagainya. Sebab, siswa adalah organism yang sedang berkembang yang memerlukan bimbingan dan bantuan orang dewasa.
Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai aktivitas proses pembelajaran (Manager of learning). Dengan demikian efektifitas proses pembelajaran terletak di pundak guru. Oleh karenanya, keberhasilan suatu proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru.
2. Faktor Siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadianya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama itu, disamping karakteristik lain yang melekat pada diri anak.
Aspek latar belakang siswa meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran, tempat tinggal siswa, tingkat social ekonomi siswa, dari keluarga yang bagaimana siswa itu berasal, dan lain-lain; sedangkan dilihat dari sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar pengetahuan dan sikap. Siswa yang termasuk kemampuan tinggi biasanya ditunjukkan oleh motivasi yang tinggi dalam belajar, perhatian, dan keseriusan dalam mengikuti pelajaran, dan lain-lain. Sebaliknya siswa yang tergolong pada kemampuan rendah ditandai dengan kurangnya motivasi belajar , tidak adanya keseriusan dalam mengikuti pelajaran, termasuk menyelesaikan tugas, dan lain sebagainya.
Sikap dan penempilan siswa di dalam kelas juga merupakan aspek lain yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Ada kalanya ditemukan siswa yang sangat aktif (hiperkinetik) dan ada pula siswa yang pendiam, tidak sedikit pula ditemukan siswa yang memiliki motivasi yang rendah dalam belajar. Semua itu akan memengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab, bagaimanapun factor siswa dan guru merupakan factor yang sangat menentukan interaksi pembelajaran.
3. Faktor sarana dan Prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat pembelajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya; sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil dan lain sebagainya. Kelangkapan sarana prasarana akan membantu guru dalam penyelenggaraan proses pembelajaran; dengan demikian sarana-prasarana merupakan komponen penting yang dapat memengaruhi proses pembelajaran.
Terdapat beberapa keuntungan bagi sekolah yang memiliki kelengkapan sarana dan prasarana. Pertama, kelengkapan sarana dan prasarana dapat menumbuhkan gairah dan motivasi guru mengajar. Kedua, kelengkapan sarana dan prasarana dapat memberikan berbagai pilihan pada siswa untuk belajar.
4. Faktor Lingkungan
Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua factor yang dapat memengaruhi proses pmbelajaran, yaitu factor organisasi kelas dan factor iklim social-psikologis. Factor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran adalah factor iklim social-psikologis. Maksudnya, keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim social ini dapat terjadi secara internal atau ekternal.
Iklim social-psikologis secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim social antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahkan antara guru dengan pimpinan sekolah. Sedangkan iklim social-psikologis eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.
8. Beberapa contoh Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Islam.
Dalam dunia proses belajar mengajar, yang disngkat menjadi PBM, sebuah ungkapan popular kita kenal dengan : “metode jauh lebih penting dari materi”. Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran, sebuah proses belajar mengajar(PBM) bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak menggunakan metode. Karena metode menempati posisi kedua terpenting setelah tujuan dari sederetan-sederetan komponen pembelajaran: tujuan, metode, materi, media dan evaluasi.
Seiring dengan itu, seorang pendidik/guru dituntut harus cermat memilih dan menetapkan metode apa yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Karena dalam proses belajar mengajar (PBM) dikenal ada beberapa macam metode, antara lain: metode ceramah, diskusi, Tanya jawab, demontrasi dan lain sebagainya. Semua metode tersebut dapat di aplikasikan dalam proses belajar mengajar.
Oleh Tayar Yusuf dan Saiful Anwar mengatakan bahwa ada beberapa factor yang harus diperhatikan dalam memilih dan mengaplikasikan sebuah metode pembelarajan: 1). Tujuan yang hendak dicapai, 2). Kemampuan guru, 3). Anak didik, 4). Situasi dan kondisi pengajaran di mana berlangsung, 5). Fasilitas yang tersedia, 6). Waktu yang tersedia, 7). Kabaikan dan kekurangan sebuah metode.
Adapun beberapa metode yang dapat dipakai dalam pembelajaran/ pendidikan agama Islam, dapat dilihat sebagai berikut: Metode “Pembiasaan”; Metode Keteladanan (“Uswah”); Metode Pemberian Ganjaran”Tsawab”; Metode pemberian hukuman (“Iqab”, Jaza’ dan ‘Uqubah”); Metode Ceramah (Khutbah); Metode Tanya jawab; Metodologi “Mau’izah”( memberikan nasihat); Metodologi Perumpamaan (Amsal / Metafora); Metode Tazkir (Peringatan) dan lain sebagainya.
D. Pengembangan Pembelajaran Agama
Di dalam al-Qur’an dan al-hadits Nabi saw. Dinyatakan bahwa agama (tauhid/keimanan kepada Allah SWT) merupakan fitrah atau potensi dasar bagi manusia (anak). Tugas pendidikan agama adalah mengembangkan dan/atau membantu tumbuh suburnya fitrah tersebut pada manusia (anak), dalam pengertian bagaimana pendidikan agama membelajarkan anak, agar mareka mampu mengaktualkan imannya melalui amal-amal saleh untuk mencapai prestasi iman (taqwa).
Pendekatan keagamaan dalam pendidikan anak dimaksudkan adalah bagaimana cara pendidik memproses anak didik melalui kegiatan bimbingan, latihan ataupun pengajaran kegamaan, termasuk di dalamnya mengarahkan, mendorong dan memberi semangat kepada anak agar taat dan mempunyai cita rasa beragama Islam.
Dalam ilmu pembelajaran, kita mengenal ada tiga variable atau factor pembelajaran, yaitu: kondisi pembelajaran yang mencakup karakteristik peserta didik, tujuan pendidikan, karakteristik bidang study, dan kendala (keterbatasan sumber-sumber: waktu, media, personalia, dana dan lain-lain.; strategi pembelajaran, dan hasil pembelajaran.
Pembelajaran pendidikan yang selama ini berlangsung agaknya terasa kurang terkait atau kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah persoalan pendidikan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna” dan “nilai” yang perlu diinternalisasikan dalam diri peserta didik, untuk selanjutnya menjadi sumber motivasi bagi peserta didik untuk begerak, berbuat dan berprilaku secara konkrit-agamis dalam kehidupan praktis sehari-hari.
Bila kita mengamati fenomena empirik yang ada dihadapan sekeliling kita maka tampaklah bahwa pada saat ini terdapat banyak kasus kenakalan dikalangan pelajar. Isu perkelahian pelajar, tindak kekerasan, premanisme, white collar crime (kejahatan kerah putih), komsumsi minuman keras, etika berlalu lintas dan lain seagainya. Timbulnya kasus-kasus tersebut memang tidak semata karena kegagalan PAI disekolah yang lebih menekankan aspek kognitif, tetapi bagaimana semuanya itu dapat mendorong serta menggerakkan GPAI untuk mencermati kembali dan mencari solusi lewat pengembangan pendidikan agama Islam yang beriorientasi pada pendidikan nilai (afektif).
1. Pola pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama
Dalam poses pembelajaran, dikenal sebagai pola pembelajaran. Pola pembeklajaran adalah model yang menggambarkan kedudukan serta peran guru dan pelajar dalam proses pembelajaran. Pada awalnya pola pembelajaran didominasi oleh guru sebagai satu-satunya sumber belajar, penentu metode belajar, bahkan termasuk penilaian kemajuan belajar mengajar. Perkembagan pembelajaran telah di pengaruhi oleh pola pembelajaran, guru yang semula sebagai satu-satunya sumber belajar, peranannya mulai dibantu media pembelajaran sehingga proses pembelajaran tampak berubah lebih efisien.
Pembelajaran terus mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, kuranglah memadai kalau sumber belajar hanya berasal dari guru atau berupa mmedia buku teks atau audio-visual. Kondisi ini mulai dirasakan perlu ada cara baru dalam mengkomunikasikan pesan verbal maupun non verbal. Kecendrungan pembelajaran dewasa ini adalah sistem belajar mandiri dalam program terstruktur. Untuk itu perlu dipersiapkan sumber belajar secara khusus yang memungkinkan dapat dipergunakan pelajar secara langsung.
2. Langkah Strategi Pengembangan Pendidikan Islam di era-globalisasi
Ada empat strategi yang dapat diterapkan, strategi ini adalah:
1. Strategi substantive: lembaga pendidikan Islam perlu menyajikan program-program yang komprehensif.
2. Strategi bottom-up: berarti banyak lembaga Islam yang harus tumbuh dari bawah.
3. Strategi deregulatory: lembga pendidikan Islam sedapat mungkin tidak tidak terlalu terikat pada ketentuan-ketentuan baku yang terlalu sentralistik dan mengikat.
4. Steategi coopertif: landasan pendidikan Islam perlu mengembangkan jaringan kerjasama, baik antara sesama lembaga pendidikan Islam ataupun dengan yang lainnya.
5. Isu-Isu Pendidikan Islam Di Madrasah: tinjauan terhadap Strategi Peningkatan Mutu Madrasah Dalam Pentas Pendidikan Nasional. Strategi pening mutu pada madrasah, maka dapat dilakukan dengan usaha sebagai berikut:
1. Akutantanbilitas proses
2. Profesionalisme
3. meningkatkan anggaran Biaya
4. Meningkatkan peranserta masyarakat
5. Evaluasi diri
3. Prinsip pengembangan tujuan pendidikan Islam
Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani dalam bukunya “filsafat Pendidikan Islam” (diterjemahkan oleh Dr. Hasan Langgulung) mengatakan bahwa ada delapan prinsip dalam pengembangan tujuan pendidikan Islam, antara lain:
1. Prinsip universal (menyeluruh)
Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, sehahrusnya memperhatikan seluruh aspek kehidupan yang mengitari kehidupan manusia, baik aspek agama, budaya social kemasyarakatan, ibadah, akhlak dan muamalah.
2. Prinsip keseimbangan dan kesederhanaan
Islam memiliki prinsip dasar keseimbangan dalam kehidupan, baik antara dunia dan akhirat, jasmani dan rohani, kepentingan pribadi dan kepentingan umum, dll. Oleh karena itu pengembangan tujuan pendidikan Islam sepatutnya selalu memperhatikan prinsip keseimbangan ini.
3. Prinsip kejelasan
Adalah prinsip yang mangandung ajaran dan hokum yang member kejelasan terhadap aspek spiritual dan aspek intelektual manusia. Dengan berpegang teguh kepada prinsip ini akan terwujud tujuan, kurikulum, dan metode pendidikan yang jelas.
4. Prinsip tak ada pertentangan
Pada prinsipnya sebuah system di dalamnya terdapat berbagai komponen yang saling menunjang dan membantu antara satu sama lain. Pendidikan sebagai sebuah proses yang bersistem maka hendaknya potensi-potensi pertentangan yang mengkin terjadi di dalamnya harus dihilangkan sedemikian rupa, termasuk salah satu diantarannya adalah dalam pengembangan tujuan pendidikan Islam.
5. Prinsip realisme dan dapat di laksana
Ada sebuah prinsip yang selalu menjunjung tinggi realitas atau kenyataan dalam kehidupan. Sebuah tujuan hendaknya di rancang sejauh kemungkinan ia dapat diujudkan dalam kenyataan dalam kehidupan.
6. Prinsip perubahan yang diinginkan
Yaitu prinsip perubahan jasmaniah, spiritual, intelektual sosial. Psikologi dan nilai menuju kearah kebahagiaan.
7. Prinsip menjaga perbedaan antar individu
Adalah prinsip yang concern terhadap kesadaran antara individu, baik dari segi kebutuhan, emosi, tingkat kematangan berfikir dan bertindak atau bersikap dan mental anak didik.
8. Prinsip dinamisme dan menerima perubahan serta perkembangan dalam rangka memperbaharui metode-metode yang terdapat dalam pendidikan agama.
Prinsip diatas menjadi asas yang dapat di jadikan dasar pijakan dalam mengembangkan tujuan pendidikan Islam.


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa, visi, Misi dan aksi, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006.
Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), Jakarta: Bumu Aksara, 1991.
Abdurrahman an-Nahlawi, prinsip-prinsip dan metoda pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponogoro, 1996.
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press. 2002.
Baqir Sharif al-Qarashi, Seni Mendidik Islami, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.
Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputet Press, 2005.
Engkoswara, Dasar-dasar Metodelogi Pengajaran, Jakarta: Bina Aksara, 1984), cet.Ke-1.
D Sudjana S, Metode & Teknik Pembelajaran Partisipatif, Bandung: Falah production, 2001.
Hamzah B Uno, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Tayar Yusuf & Syaiful Anwar, Metodelogi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995.
M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumu Aksara, 1991.
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam di sekolah,Bandung; PT. Remaja Rosdakarya, 2002.
Muhammad Basyiruddin Isman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam Jakarta: Ciputat Press, 2005.
Muhammad Fu’ad Abd al-Baqi, Mu’jam al-Mufahras li Alfazh Al-Qur’an al-Karim
Tayar Yusuf dan Saiful Anwar, Metodelogi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1995
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran, Berioentasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006.

¬Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya; Usaha Nasional, 1983), hal 80.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar